KLIK LA YE

March 16, 2014

Ruang dan Nyata



Di ruang angkasa
di sebalik kelabunya dunia
engkau berlegar
mencari arah
menuju tempat
yang bergelar rumah.

Di ruang nyata pula
aku melihat di suatu penjuru
sang anak yang menunggu bapanya
si isteri yang mengesat air matanya
sang suami yang tunduk sayu menahan esaknya
dan ibu tua yang tidak putus memanjatkan doa
memohon kepada yang Esa
untuk dikhabarkan berita gembira.

Untuk kita pendosa yang menadah tangan
meminta dikabulkan satu harapan
saat musibah menampakkan bayang bayang
harapan itu tidak mungkin akan hilang
kerana sesuatu yang bergelar harapan
akan diiringi sebuah jawapan
kepada pelbagai persoalan.

Yakinlah bahawa Doa itu
adalah payung yang paling teduh
bagi setiap insan yang bernyawa
dan sedarilah akan kuasa yang maha Esa
pencipta dunia yang sementara.

Maka aku tanpa lelah
terus berdoa
untuk mereka yang hilang
dari kaburnya pandangan mata.


#Pray4MH370
Mita Ari

February 23, 2014

Choices


The choice is yours
How you respond
How you react
To the world around
You're in control
At the end of the day
When you decide
The right words to say
You should not push
Resist, defend
But acknowledge your actions
In the end
That does not mean
You are to blame
Or it's your fault
For the role you played
In all events
The things you did
Should not drive you
To shame, regret
But rather give you
The power to see
Choices improve you
To be better or to be worst
Choices made you choose
To live well or to live hell
You choose.


Mita Ari
1.09 am

February 20, 2014

Bermula dan Berakhir

warna hitam menampakkan rupa
dalam hati yang dicemar oleh noda
kotor, jijik, ngeri kian aku rasa
mengingatkan kembali hati yang sudah tiada jernihnya

aku tersasar nanar
jauh dari landasan syariatnya
penuh resah ibarat hampir putus dari nyawa
sehingga aku terpaku dalam kalam pilu

sedarku pada dosa dan sesalku yang kini bersatu
menjadikan aku rindu
rindu pada sujudku
untuk kembali kepada sujud nasuha menghadapMu

hampir bertahun aku kehilangan arah
kini aku sudah kembali mencari maruah
sebagai Islam yang mujahaddah
untuk aku kembali merasa bahagia

Kini, terasa lapang hamparan hidup
dengus nafas tidak lagi gugup
tatkala terbit sinar difajar subuh hidupku
kembalikan asa yang kian rapuh.

Syukur alhamdulillah.

live, love and learn.

Mita Ari

December 30, 2013

Cerita Cinta


Kata Miller
yang sangat gemarkan puisi-puisi cinta
Cinta itu deep
deep bagaimana?
tidak juga aku ketahui perihal cinta
mungkin benar kata Miller,
yang cinta memang deep
cuma aku yang belum merasai 
bagaimana deepnya cinta

Tapi untuk punya rasa cinta
aku sering memasang angan
ingin berjumpa sang putera idaman
yang bisa mendamaikan jiwa
tatkala aku gusar dilandar resah
atau sang jejaka manis
yang sering membuat aku tertawa
dan menerima aku dalam halalnya agama

anganku lagi
untuk separuh nyawaku yang aku belum ketahui
aku ingin sekali mendodoikan kamu dengan puisi-puisi
yang aku karang baitnya
agar kamu bisa mimpikan aku dalam lena 
dan larut dalam bahagianya rasa
yang aku berikan setiap masa

untuk separuh nyawaku
aku tak mampu membawamu
ke hutan paling hijau
dan pantai paling sunyi
atau gunung-gunung berkabus kelabu


tapi aku akan selalu membawamu ke kedai buku
menyelak helaian kertas yang tak pernah habis 
membaca cerita-cerita yang kita suka
juga menonton musikal klasik yang mendamaikan jiwa
mahupun bergembira mendengar live band 
yang mendendangkan lagu-lagu cinta kita
 atau ke panggung dan tersenyum melihat kita dalam cerita-cerita mereka

Mahukah kamu wahai separuh nyawaku?
bersama-sama mengharungi hidup yang belum tentu bahagia
di pengakhirannya?
aku sentiasa mahu kamu
berada dekat disisi aku
tidak jemu memandang wajah aku yang sederhana
senyum mendengar aku bercerita
ketawa riang dalam bahagianya kita
dan sentiasa bersama membina keluarga

aku bukanlah perempuan pilihan mata dan hati kamu
tapi aku akan berusaha untuk menjadi satu
yang bisa kamu bergantung hidup tanpa derita
dan punya rasa cinta yang tidak akan pudar
sampai terpisahnya jasad dari nyawa.



Love:  
Mita Ari

Puisi Kita

Aku sering terbangun
dari tidur yang dihantui mimpi
lalu aku menulis
tentang syurga dan neraka
benci dan cinta
bahagia dan derita

aku kumpulkan bait kata penulisanku
dalam bentuk puisi 
yang hanya aku fahami
biar orang membaca 
walau kosong pemahamannya
sudah cukup buat aku gembira

Tapi gembiraku menjadi pudar
mendengar bangganya seorang teman meluah kata
tentang puisi Melayu yang dianggap enteng
melalui kata-katannya

Kata teman dengan lantangnya 
menulis puisi tidak sukar
kau pilih saja lagu dari barat 
lalu kau terjemahkan setiap bait kata
menjadi pemahaman bahasa kita

aku terdiam
suara halus berkata dalam hati kecilku
mana mampu aku menyamakan lagu barat dengan keindahan puisi Melayu
ingin aku menjawab dengan benteng maruah rasa cintaku terhadap puisi Melayu
tapi aku tidak mampu untuk menjawab dengan lantangnya 
perihal itu
aku cuma mampu memandangnya tajam
untuk seketika
sebelum aku membuat keputusan untuk berlalu pergi

tidak akan sekali-kali
aku mencemar puisi-puisi Melayu
dengan plagiat dari penulisan barat
itu namanya Bodoh!
itu dipanggil Pagiarism!
Apa engkau bebal?
atau bangang?
sehingga tidak tahu apa itu Plagiarism?

Kalau puisi-puisi ku diterima dan difahami mereka
suatu hari nanti
akan aku berdiri megah melontarkan setiap bait kata puisiku
kepada kamu
yang telah mencemar puisi-puisi Melayu.

Mita Ari

December 8, 2013

Untitled. (Kalian definisikan tajuk puisinya)








Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
kita semua mengembara
membawa pengalaman dan kenangan bersama
kau, kau dan engkau
terbang mengelilingi dunia
kamu, kamu dan kamu
bahagia membina keluarga
aku, aku dan aku
terus mengorak langkah
menuju masa hadapan yang rahsia

setiap tawa, teriak dan senyum kita
aku simpan rapi dalam uncangnya
aku tutup jilid buku kita bersama
bukan bermakna aku mahu menamatkan
persahabatan kita
tapi aku kira
aku perlukan jilid buku yang baru
buat kenangan yang bakal kita ciptakan bersama
kerana aku punya rasa percaya
persahabatan kita untuk selamanya

Kenangan aku bersama kalian
tidak mampu aku umpamakan
dalam bait kata mahupun bait coretan
setiap daripada kamu
yang aku kenal dari hari pertama
tiga tahun yang lalu
sehingga ke saat ini
setiap daripada kamu
membaca puisi yang aku coretkan
ketahuilah
tidak pernah ada penyesalan
dalam perjalanan hidupku
mengenali setiap daripada kamu
yang aku anggap kawan
kawan yang aku sayang

kawan
hiduplah dengan baiknya
jalanilah kehidupan kalian
tanpa ada rasa patah hati mahupun duka
tidak perlu paterikan aku dalam ingatan kalian
cukup kalian punya rasa bahagia bersama
 mengenali sesama kita
maafkan setiap khilaf
daripada kita
tamatkan sengketa bagi yang masih berbaki 
antara kita
mulakan dari jilid satu
coretkan dengan warna indah bukannya duka
ikhlaskan hati
terima setiap kurangnya kita
hargai setiap lebihnya kita
persahabatan ini mungkin bukan perkara paling indah 
yang berlaku dalam hidup kita
tapi kalian adalah satu diantara keindahan yang ada
dalam hidup aku
 semangat yang sentiasa
berada disamping aku
sampai bila-bila

perjalanan kita seterusnya
adalah rahsia
tidak aku ketahui dimana penghujungnya
kalaupun takdir kita tidak bertemu lagi
selepas semua pergi membawa haluan sendiri
kalau takdirnya kita hanya bersahabat sampai saat ini
tidak perlu mencari
kerana aku yakin
kenangan kita tidak akan mati
tapi
kalau sampai waktu ku dulu
aku tidak mahu seorang pun merayu
tidak juga kamu
kerana persahabatan kita
tidak ada noktahnya
dan aku
tidak perlukan sedu sedan itu
sayangnya aku pada setiap kamu
biar aku simpan sampai mati.

...................................................................................................................................................................
untuk sahabat-sahabat perjalanan ijazah ku, kalian tahu siapa diri kalian, terima kasih terima aku menjadi sebahagian daripada hidup kalian, puisi ini aku baitkan khas untuk persahabatan kita, semoga kalian gembira sampai bila-bila. hiduplah sebaik-baiknya.:)


Mita Ari
Ini adalah link video : Hadiah daripada Faizol

October 4, 2013

A Random speaks with MR. Friday. :)

#DoSomethingGood 

Today is Friday, the day that everyone in this world waits to own before it ends the chaotic days. A day before the weekend become visible sounds fascinating indeed, if you are not having a restless weekend thou.  Mr. Friday condition today seems perfect, it wasn’t raining but the sun was shy, it wasn’t cloudy but birdies could have flew around playing hide and seek, the temperature gave me the same feeling when I was in my mum’s armed, it was real but definitely bizarre. That moment was perfect, and I would be the happiest young lady in Friday if I could own this feeling until Mr. Friday left me for this week.

I decided to stay quietly in my room, having sort of my quality times, some privacy indeed. I turned on my laptop and watched some random TV series that I managed to download for few months ago, but yaa I did not have times to watch it before. My concentration went about 2 hours for that 3 early episodes, then I feel really bore until I minimized the video player and my hands naturally clicked on the Microsoft words and I started typing all this shit that you are reading now.

I don’t know what should I write, I’m running out of ideas of writing new poem, actually I got some ideas for my new poem but then I am running out of words to complete the poem thou. It was really disappointed for me not to be able to write one.  What can I really share in my blog? I’m not really sure what should I write for now.  My heart ached for no reason, I feel half empty, I feel like I am missing the other side of me. My heart says that I really miss my mum, my siblings, my late brother, my nephews and niece, and of course my beautiful friends. I miss my life back in my hometown…  Perak, and my hometown will always be with me wherever I go and whatever I do, because everybody deserves to love and to be loved by their own root. LoL! :p

Right now, my heart keeps forcing me to have some thoughts about my friends. I really need some giggles time with my beautiful friends. Friends that I used to know during my Diploma days. My friends that never judge me even I was lacked of everything. They are still my best friends, my love ones, but we barely met each other lately.  We barely managed to meet and spend some quality times together because everyone is getting busier with each life. Me neither, I can’t even spare some of my studying times for them, how can I expected to have them for me if I am not trying to give some to them right? I think I should have some giggles and chilling time with them soon. As I believed that we are missing each other very much lately.

What piece of shits I wrote just now? It’s kind of F*** piece of shits! Shit that have most uncertain words and a vague content. -_-

 I think I should back off for now.
Till then, take care people! Live your live well, with positive purpose indeed.
...................................................................................................................................................................


*psst, the picture of "DOSOMETHINGGOOD" above is an event that me and my classmate will be proceed with for my final year coursework whereby we are collaborating with Yayasan Chow Kit. So  I believed that each everyone of you are beautiful people who love to help those unfortunate people who in needs from Yayasan Chow Kit, Am I Right? So it will be such a pleasure if you could do an hash-tag #DoSomethingGood when you tweeting something positive on your twitter if you have a twitter account. Thank you! :)


Love : young lady who hates blue color. Lol. :p



Mita Ari

Momen. :)

Meet my nephew, my love one; Humam Thaqif.


Aku rindu pada masa kecil, 
semua begitu sederhana,
bersama-sama teman aku ketawa riang,
tiada duka mahupun sengketa,
tidak mengerti akan rasa sengsara,
hanya tahu bersuka ria,
walau menangis kerana dimarah,
sedih duka ku hanya sementara,
tidak menyimpan rasa duka durjana yang lama.

Aku ingat momen masa kecil ku,
saat aku terjatuh,
hanya lututku yang terluka berdarah, 
dikuti esak tangis takut dimarah,
dan ditemani rasa sakit akibat tidak mendengar kata,
kata emak dan abah hendaknya...

Tapi luka yang berdarah,
pada masa kecil ku,
boleh diubati dan tidak meninggalkan parut yang lama, 
tidak seperti hati yang terluka apabila sudah dewasa, 
sekali terluka,
aku derita, 
juga merana.


Ya, aku begitu rindukan masa kecil ku yang sederhana.



Mita Ari



#I am all grown up  to a beautiful young lady now..hikhik..:p

Love : A young and passionate girl. :)


July 23, 2013

Rindu.


Angin yang membuai sayu,
Tiap hati yang menunduk lesu,
Mereka yang ditusuk rasa rindu,
Aku puisikan untuk kamu yang sedang dilanda pilu.

Wahai jasad yang aku rindu,
adakah kau tahu?
Hati ini ibarat ditusuk rasa ngilu,
Ditinggalkan jiwa yang terbang jauh,
Tinggalkan sekeping hati yang tidak mampu tersenyum.

Burung-burung mula berlagu rindu di langit nan biru,
Sama seperti hatiku yang sentiasa resah sayu,
Jangan bimbang wahai bintang dalam jiwaku,
Aksaraku tidak akan beku demi kamu.

Tiap nafas yang aku hembuskan,
adalah untuk kamu,
Tiap kegembiraan dan senyumku,
adalah demi kamu,
Kerana aku punya rasa yang utuh,
Bahawa kau inginkan aku bahagia,
Walau tiadanya kamu,
Menemani aku yang semakin rapuh,
Dibuai kenangan lalu.





Rasa rindu pada arwah abang yang amat aku sayangi semakin mencengkam hebat di dalam hati.
Al-Fatihah untuk arwah..

Ikhlas : Adikmu. :)

Mita Ari


July 20, 2013

(i) Luahan Rasa dari Hati untuk Arwah Abang yang Disayangi.

Assalammualaikum. 

Setelah sekian lama aku membenarkan helaian kanvas visual di blog aku ini dipateri dengan bait-bait kata puisi yang aku coretkan ikhlas lahir dari hati, kini aku ingin sekali mencoretkan sebuah penulisan diari tentang seseorang yang pernah menjadi sebahagian hidup aku dan keluarga.

Tanggal 16 Julai 2013 bersamaan dengan 7 Ramadhan yang lalu, aku dan keluarga telah menerima tamparan yang maha hebat yang Allah telah turunkan untuk menguji kami sekeluarga. Abang kandung kesayangan aku telah pergi meninggalkan aku dan keluarga untuk selama-lamanya. Abang kesayangan aku dan keluarga telah meninggalkan dunia ini dan pergi menghadap ilahi pada jam 7.55 a.m. di Hospital Sultanah Nur Zahirah, Kuala Terengganu pada 7 Ramadhan bersamaan hari Selasa pada tahun ini. 

Jujur aku mengaku, berat sungguh hati ini untuk menerima pemergian abang kesayangan ini. Mungkin mudah bagi mereka yang hanya melihat tanpa merasa bagaimanakah rasanya kehilangan, tapi berat lagi bahu dan hati kami yang merasa keperitan ini.  Hati ini sungguh sayu dan sedih apabila mengenangkan arwah sudah pergi meninggalkan kami sekeluarga. Arwah abang kami sekeluarga panggil dengan nama timangan "Abang Awie".  Abang awie sangat la manja dan lembut hatinya.  Semasa hayatnya aku tidak pasti sama ada bahagia atau tidak hati abang kesayangan aku ini.  Walaupun kami ini adik beradik, walaupun kami rapat sesama kami, tapi Abang Awie seorang yang sangat perahsia.  Perahsia perihal segala-galanya. Amat sukar untuk arwah berbicara perihal diri kepada kami atau sesiapa sahaja melainkan arwah benar-benar ingin berkongsi rasa atau cerita.  Semasa hayatnya, Abang Awie seorang yang sangat mesra dan kelakar, abang sangat suka mengusik atau meyakat aku dan adik.  memandangkan aku mempunyai enam orang adik beradik, dan arwah merupakan anak yang keempat dalam keluarga dimana arwah adalah abang sebelum aku dan adik.  Jujur, Kami memang Akrab!

Semasa hayatnya, arwah sangat manja dengan emak, bermula dari zaman kanak-kanak sehingga dewasa, arwah memang manja. Semasa arwah menderita sakit, arwah sangatlah manja dan kadang-kadang merengek seperti keanak-anakan.  Jujur, emak tidak pernah membezakan kasih sayang kepada kami. Cuma kemanjaan arwah dengan emak agak melebih-lebih pada pandangan mata ini kerana pada perkiraan aku, abang awie lebih memerlukan belaian manja daripada seorang ibu lebih daripada kami semua kerana arwah sakit dan secara zahirnya, orang yang sakit memang sentiasa ingin dibelai manja.  Tambahan pula, semasa arwah sakit, setiap kali arwah warded di hospital, arwah selalu minta kami meneman dirinya di hospital.  Arwah tidak boleh ditinggalkan keseorangan kerana arwah seorang yang selalu mahu dibelai dan disayangi. Arwah seorang yang sihat dan berbadan gempal, sangat mudah tersenyum dan tidak berkira.

Tetapi, segalanya bermula pada bulan puasa tahun lepas dimana ianya masih segar dalam ingatan, arwah mula sakit dada, sesak nafas dan sentiasa kepenatan. Arwah bukan lah seorang yang berpenyakit walaupun arwah bertubuh gempal, untuk punya penyakit kronik jauh sekali daripada pemikiran kami sekeluarga.  Tapi arwah mula menunjukkan dirinya kurang sehat semasa Ramadhan tahun lepas, dimana kami anggap ringan akan perihal kesihatan arwah.  Pada fikiran kami, mungkin sakit angin atau gastrik akibat bulan puasa. Tetapi segalanya berubah pada Syawal tahun lepas, pada hari raya ketiga, arwah dimasukkan ke Ward CCU di KPJ Ipoh.  Arwah mengalami masalah untuk bernafas yang agak teruk sehingga arwah ditahan dan dipasangkan dengan wayar-wayar di seluruh tubuhnya dan arwah bernafas dengan menggunakan bantuan pernafasan.  Ya Allah sayu sungguh hati melihat keadaan arwah tika itu. 

Doktor di KPJ mengesahkan arwah mempunyai masalah jantung dimana jantungnya tidak boleh berfungsi dengan baik, dan tambah menyedihkan kami lagi, arwah juga telah disahkan mempunyai masalah pada hati dan paru-paru. Semasa arwah ditahan di KPJ Ipoh, Doktor yang merawat arwah sudah pun mengingatkan kami sekeluarga untuk "be prepare for the worst".  Hanya Allah yang tahu betapa sayu dan sedihnya hati ini tatkala menerima berita bahawa arwah mungkin tidak mampu untuk teruskan hidup dalam jangkamasa yang lama.  Tapi kami sekeluarga tidak putus harapan, kami yakin Allah itu maha kaya dan akan terus membantu hambanya yang memerlukan bantuan.

Bermulalah proses kami sekeluarga bagi mencari penawar dalam menyembuhkan penyakit abang kesayangan kami ini. Bermula di KPJ arwah kami usahakan bagi mendapat rawatan, seterusnya arwah ditempatkan pula di Institut Jantung Negara dalam tempoh yang agak lama bagi meneruskan sisa rawatan. Disamping itu, berhempas pulas juga kami sekeluarga terutamanya kakak aku yang sulung ke sana kemari mencari penawar daripada perubatan Alternatif.  Namakan saja pusat perubatan Islam yang ada di negara kita, semua kami cuba bagi mendapatkan rawatan.  Dari Darul Syifa' yang gah sehinggalah ke Terapi Ruqyah yang ada di sekitar Kuala Lumpur. Semua kami ikrarkan, semata-mata untuk mengurangkan beban penyakit yang arwah alami.  Sungguh, arwah menderita dengan sakit yang dialaminya selama setahun sebelum arwah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Amat Sukar bagi arwah sendiri, pelbagai dugaan yang arwah alami selama arwah sakit.  Tidak dapat aku gambarkan keperitan yang arwah alami, amat payah untuk aku coretkan bait-bait kata yang mampu menggambarkan kesengsaraan yang arwah deritakan semasa hayatnya. 

Lebih kurang setahun arwah menderita sakit, keluar masuk hospital sudah menjadi rutin dalam hidup arwah. Untuk melihat arwah gembira amat payah dalam masa setahun ini. Aku tahu arwah sakit, walhal aku dan keluarga sentiasa cuba berada di samping arwah. cuma kadang-kadang, semasa tempoh arwah sakit, perasan "give up" dan "rimas" dengan perangai arwah yang agak manja itu membuatkan aku bosan dan kadangkala menyampah.  bukan aku tidak prihatin, tetapi aku selalu tegas dalam kata tiap kali aku utarakan nasihat kepada arwah. Aku marah dalam kata kerana aku sangat risaukan arwah tika itu. Tiap kali arwah merengek "Kesakitan", pada permulaanya, aku cuba untuk berlembut dalam berbicara bagi mengurangkan kesakitan yang arwah alami, aku cuba untuk memahami keadaan arwah tika itu, Sumpah! aku memang tidak sanggup melihat arwah sakit, Sumpah! Aku tidak mampu melihat beban yang arwah pikul. Tapi tiap hati yang bersabar, pasti punya rasa amarah.  Lama-kelamaan, apabila arwah asyik mengulang kata perkara yang sama bahawa arwah sakit dan merengek kesakitan mula menambahkan rasa amarah dalam diri ini.  Sebagai adik, walau amarah itu menular dalam diri, aku tetap hormat arwah sebagai abang, cuma semasa hayat arwah dimana arwah sedang sakit teruk dan telah ditempatkan di ward HDU IJN Kuala Lumpur, pernah aku katakan kepada arwah dalam keadaan yang agak kasar dan cuba menahan amarah, aku lontarkan kata-kata ini daripada mulut aku yang menahan marah dan resah di hati;

"kalau abang awie asyik merengek cakap sakit, sakit, sakit, macam mana nak sembuh? abang awie cuba lah kuat semangat, be positive, rajin solat dan mohon pada Allah untuk kurangkan beban yang abang awie tanggung sekarang, kalau bukan abang awie yang nak tolong diri sendiri, macam mana kitorang nak tolong abang awie? Bila abang awie sakit macam ni, abang awie menyusahkan semua orang tahu tak? Abang awie buat emak, kitorang semua susah hati, abang awie ingat kitorang semua suka tengok abang awie sakit?". 

 Masih segar dalam ingatan bait kata yang penuh geram aku lontarkan pada sekujur tubuh yang sedang lesu sakit di pembaringannya ketika itu. Tatkala teringat akan kenangan lalu, aku rasakan aku sungguh kejam pada arwah.  Aku sebagai seorang adik seharusnya cuba memahami arwah dan sentiasa bersama dengan arwah semasa sisa-sisa akhir hayatnya, tetapi aku gagal!

Sumpah aku tidak pernah dapat membaca petanda yang Allah turunkan kepada kami sekeluarga.  Aku terlalu ambil mudah dengan semua perkara, jujur aku akui, penyesalan di hati kian bertambah dari hari ke hari. Menyesal hati ini tatkala terkenangkan selama arwah hidup, aku belum punya kesempatan membalas jasa arwah sebagai abang yang cukup baik kepada aku dan adik. Walaupun kehidupan abang awie bukanlah begitu senang semasa hayatnya, tetapi arwah tidak pernah berkira dengan kami sekeluarga.  Arwah sebenarnya baru lagi bekerja sebagai seorang kakitangan kerajaan, arwah baru dua tahun bekerja government di Terengganu, dan baru dua tahun arwah lega dengan hidupnya mungkin, kerana sebelum ini arwah kerap bertukar kerja kerana bekerja swasta dan seperti yang semua maklum bekerja swasta sedikit payah dan tiada jaminan. Aku ingat lagi arwah memang gembira apabila mendapat kerja kerajaan, dan kehidupan arwah menjadi lebih stabil pada perkiraan aku.  Cuma, apa yang arwah rancangkan untuk hayatnya tidak bertahan untuk tempoh yang panjang, arwah pergi meninggalkan kami dalam keadaan yang sungguh memilukan. 

Arwah menghembuskan nafasnya yang terakhir tanpa adanya kami sekeluarga di sisi. Sedih dan penuh sesalan hati ini apabila mengenangkan arwah menderita sakit keseorang pada penghujung hayatnya.  Arwah sebenarnya kami jangka sudah hampir sihat 3 minggu lalu. Pada pemerhatian kami, arwah sudah hampir sembuh kerana arwah sudah dibenarkan untuk pulang ke rumah dan discharged daripada IJN, dan doktor juga telah membenarkan arwah kembali bekerja semula memandangkan cuti sakit arwah tidak dapat disambung. Pada permulaan, agak payah juga kami mahu membenarkan arwah untuk kembali bekerja memandangkan arwah berkhidmat nun jauh di Terengganu, dan kami sekeluarga pula tinggal di Perak.  Tetapi, arwah ketika itu begitu cekal dan menunjukkan perubahan yang positif dimana kami percaya arwah sudah semakin sihat, jadi kami sekeluarga nekad menghantar arwah ke Terengganu bagi memulakan kerjanya kembali. Kakak sulung dan adik aku serta anak buah aku yang sulung yang pergi menghantar arwah abag awie ke Terengganu untuk kembali bertugas semula, memandangkan aku sedang menghadapi peperiksaan akhir ketika itu.

Jujur aku akui, aku sangat mahu menemani kakak dan adik aku pergi menghantar arwah ke Terengganu, tapi kekangan jadual peperiksaan akhir menjadi halangan. Aku agak sedih kerana tidak dapat turut serta ke Terengganu, dan aku sungguh terkilan kerana beberapa hari sebelum arwah kembali ke Terengganu, aku sungguh sebuk dengan persiapan bagi menghadapi peperiksaan akhir sehinggakan aku tidak sempat untuk berjumpa atau contact dengan arwah untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan semasa arwah sudah dibenarkan pulang daripada hospital, aku dan adik yang pergi menjemput arwah pulang dari hospital pada hari terakhir arwah berada di IJN, dan memang tidak pernah terlintas pada fikiran bahawa itulah kali terakhir aku berjumpa dan bersalam dengan arwah sebelum aku kembali pulang ke UiTM Shah Alam bagi menghadapi peperiksaan akhir. Jadi pada pemerhatian aku ketika itu, aku sungguh bersyukur kerana arwah memang kelihatan sudah beransur pulih. Kerana pada perkiraan aku, arwah memang benar kelihatan begitu sihat dan aku yakin yang aku akan berjumpa dengan arwah lagi, dan yang paling mengecewakan, hati aku berdetik dengan yakinnya tika itu "takpe, bulan puasa dan raya nanti mesti jumpa abang awie punya".  Yakin sungguh hati aku tika itu, tetapi Allah lebih mengetahui segalanya dan kita sebagai hamba hanya mampu merancang, Allah swt jualah yang menentukan segala-galanya. Aku tidak sempat untuk bersama arwah untuk kali terakhirnya...........................